Tourism Alternative

Merengkuh Dinginnya Gunung Bromo

https://tourismalternative.blogspot.com/2013/08/merengkuh-dinginnya-gunung-bromo.html

Jaket berbahan parasut yang melekat di tubuh saya tidak mampu untuk menahan dinginnya udara malam yang makin menusuk, tangan kanan saya tak henti-hentinya memutar gas motor, sambil sesekali tangan saya yang satunya menekan pedal rem ketika tikungan tajam di kegelapan malam harus kita hadapi.
Jalan yang berkelok-kelok serta terus menanjak dan kadang-kadang berkabut memang membutuhkan kepawaian untuk menghadapinya, namun sayang motor yang saya bawa kali ini bukan trail yang biasa saya pakai sehari-hari.  Di suatu tanjakan yang terjal tiba-tiba dari bagian belakang motor tercium bau hangus seperti ban yang terbakar, rpm yang tinggi tak mampu untuk sekedar memutar ban belakang, tampak asap mengepul dari mesin kecil yang dimiliki motor dangan transmisi otomatis ini.
Lautan Pasir
Di malam gelap dan  berada di tempat yang tak saya kenal, ditambah dengan malam yang makin dingin membuat saya khawatir seandainya motor mogok. Untungnya setelah dimatikan beberapa saat motor perlahan-lahan mulai mendaki, walau penumpangnya mengikuti di samping sambil berjalan kaki.
Setelah bertanya sana-sini akhirnya tiba juga kita di Hotel Cafe Larva yang berada tak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Bromo. Namun ternyata kata-kata "Maaf mas, udah penuh kamarnya" yang harus kita dengar. Kecewa? tentu saja..tapi tak ada yang bisa disalahkan karena memang saya tidak membooking kamar sebelumnya.
Desa di sekitar Bromo
Calo yang sejak kedangan kami mengikuti saya terus akhirnya melihat peluangnya makin besar, tapi toh tak ada salahnya juga untuk melihat kamar yang dia tawarkan, kalau memang tidak cocok kan bisa cari yang lain lagi, masih banyak homestay dan hotel lain yang bertebaran di sekitar Gunung Bromo.
Kamarnya cukup nyaman, fasilitasnya  lengkap dengan kamar mandi yang mempunyai hot and cool shower. Setelah harga deal saya masuk ke dalam kamar yang semua benda ada di dalamnya terasa dingin itu, dari lantai keramik sampai selimut yang seharusnya berfunsi sebagai penghangan tetep saja terasa dingin. Untungnya kran air hangat yang ada bisa membuat dingin yang menusuk tulang agak berkurang, walau efeknya hanya sementara.
Ayo naik aku kak :-D
Sunrise dari Penanjakan
Alarm di hp membangunkan saya, perlahan motor melaju pelan ke arah bukit penanjakan untuk menuju titik di mana kita bisa menikmati pemandangan terindah yang sering diabadikan dalam foto-foto tentang gunung Bromo. Walau tidak mengetahui tepatnya tempat yang akan dituju, namun semua orang tampaknya menuju satu arah, yaitu menanjak dan terus menanjak, itu yang terus kita ikuti.
Setelah perjalanan tidak bisa lagi ditempuh dengan sepeda motor, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, bagi yang tidak kuat untuk menanjak bisa menggunakan jasa ojek kuda yang di tawarkan oleh penduduk setempat. Setelah melalui tanjakan berdebu ternyata perjalanan masih belum usai, ada puluhan atau mungkin ratusan anak tangga yang telah menunggu untuk ditapaki, entahlah, saya terlalu lelah untuk menghitung.
Naik-naik ke Penanjakan
Matahari masih tertutup kabut ketika berhenti di sebuah tempat dimana kita bisa memandang gunung Bromo,  walaupun sebenarnya spot terbaik yang disebut penanjakan masih berada di atas kita.
Perlahan-lahan kabut mulai berkurang, Sang fajar di ufuk timur menampakan sinarnya dengan malu-malu, menebar kehangatan kepada manusia-manusia yang rela berlelah-lelah mendaki hanya untuk menikmati keindahannya yang hanya bisa disaksikan ketika sebagian orang masih meringkuk dalam kehangatan selimut.
Bromo di pagi hari
Sayapun menebar pandangan, di sebelah kiri diantara halimun yang mulai tertiup angin tampak rumah-rumah penduduk suku Tengger serta perkebunan tempat mereka menggantungkan hidup, bergeser agak ke kanan sedikit, diantara debu yang berterbangan terlihat jeep dan motor menyeberangi padang pasir untuk menuju ke kawah Bromo, di belakang gunung batok yang sering dikira gunung Bromo, menganga kawah Bromo yang 2 tahun lalu memuntahkan awan panas sehingga membuat kawahnya semakin membesar, dan nan jauh disana puncak tertinggi di tanah jawa yang dulu gagal untuk saya gapai, Mahameru.
Matahari semakin meninggi
Kawah Bromo
Biasanya setelah selesai menyaksikan Sunrise di penanjakan, wisatawan langsung turun ke kawah Bromo bersama dengan jeep yang mereka sewa, karena semua berfikiran sama, makanya ketika tiba di sana harus siap-siap makan debu dan mengantri untuk naik tangga menuju kawah Bromo. Nah, bagi yang lebih suka suasana sepi dan tenang lebih baik turun ke kawah Bromo di siang atau sore hari seperti yang saya lakukan.
Jalur neraka buat motor
Matahari sudah agak condong ke barat ketika kita turun menuju lautan pasir, ban depan terseok-seok ketika mulai melaju, kejelian untuk memilih jalur yang agak keras di butuhkan agar motor tidak terjebak di atas pasir.
Seelah memarkirkan motor di parkiran yang sepi kami langsung menanjak menuju kawah Bromo. Debu-debu berterbangan mengiringi langkah kaki kami, tak dapat saya bayangkan bagaimana banyaknya debu yang berhamburan ketika ada ratusan kaki yang turun dan naik melalui jalur ini.
Trek ke puncak kawah Bromo
Ada 250 anak tangga yang harus dilalui untuk dapat sampai ke kawah, ketika sedang beristirahat mengambil nafas di tengah-tengah ada serombongan orang yang turun, " Ayo mas dikit lagi, mumpung awannya sedang berbelu" sapa salah seorang dari mereka.
" Iya mas" jawab saya sambil terus memikirkan apa arti dari kata "Berbelu" yang merupakan vocabolary baru bagi saya, bertanya dengan travelmate di samping, dia juga tidak tau apa artinya. Sambil terus memperbincangkan kosa kata baru tersebut kita kembali melanjutkan perjalanan.
Pura di kaki gunung 
Bau belerang menyambut kedatangan kita ketika telah menginjakan kaki di anak tangga yang terakhir. Hanya kita wisatawan yang ada di atas, oh ya juga ada dua orang, pedagang asongan dan penjual bunga edelwies yang sedang nongkrong dengan dagangannya di sana.
Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari maksud berbelu oleh orang tadi, dari dasar kawa yang berdiameter 60 meter ini sesekali mengeluarkan asap putih yang tampak bergulung-gulung sambil menebarkan bau belerang yang cukup menyengat.
Kawah Gunung Bromo
Sejak meletus 2010 lalu kawah Bromo semakin melebar, berjalan di bibirnya yang curam merupakan salah satu tantantangan yang cukup memompa anrenalin, terpeleset sedikit saja maka jurang yang menganga menanti.
Awan hitam tampak mendekat perlahan-lahan dari arah timur, para  pencari nafkah di sekitar kawah Bromo segera menyumpulkan dagangannya, titik-titik air mulai jatuh satu persatu membasahi bumi. Sayapun segera memacu sepeda motor diatas  pasir yang gembur untuk menghindari terjebak hujan badai di lautan pasir dan segera kembali ke Homestay. Benar saja, ketika baru akan memarkirkan motor hujan turun dengan derasnya.
Duh, kasian bunganya  :-(
Bukit  Teletubies dan Pasir Berbisik
Masih ada spot lain yang wajib untuk dikunjungi di kawasan Gunung Bromo ini, kedua nama lokasi ini sama-sama terinsfirasi dari sebuah film, yaitu Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies.
Salah satu keuntungan menuju tempat ini di pagi hari adalah pasir bromo masih keras, tidak seperti di sore hari ketika saya turun ke Kawah Bromo kemaren. Mungkin tadi malam pasirnya bergadang dan tidur tanpa menggunakan selimut sehingga jadi membeku.
Dengarkan bisikan pasirnya
Tujuan kita yang pertama adalah Bukit Telebubies, tidak perlu saya jelaskan lagi tentang film yang menceritakan persahabatan 4 orang boneka yang mempunyai televisi di perutnya ini, semua pasti sudah kenal. Nah, bentuk perbukitan yang menghijau seperti setting di tontonan favorit anak-anak inilah yang membuat orang-orang menamakan tempat ini dengan bukit Teletubies.
Landskap TNBTS ini memang menyejukan mata untuk dipandang bagi mata yang terlalu lelah karena setiap harinya menatap layar monitor. Warna hijau rerumputan menggoda saya untuk berguling-guling melepaskan semua beban fikiran yang ada, sungguh suatu tempat yang pas buat para pekerja untuk santai sejenak, melupakan deretan angka sembari menikmati semilir angin yang bertiup lembut.
Bukit Teletubies
Selanjutnya kita kembali untuk singgah di destinasi yang kedua, semula saya juga penasaran dengan tempat ini sehingga banyak dikunjungi orang, belum ada sama sekali bayangan dalam benak saya bagaimana bentuk keindahan tempat yang dijadikan syuting film in, jujur saja saya belum pernah menonton film lawas dengan judul Pasir Berbisik tersebut.
Ada apakah disana? Ternyata hanya ada beberapa onggok batu dan pasir yang juga sama seperti pasir di bagian lainnya, berwarna kelabu dan cendrung monoton.  Namun apa yang membuat tempat ini istimewa? Tentu saja karena tempat ini dijadikan sebagai lokasi syuting film yang dibintangi oleh Dian Sastro tersebut. Sejak itulah tempat ini menjadi terkenal.
Padang Savana
Itulah salah satu keuntungan dengan dijadikannya suatu tempat sebagai lokasi syuting film layar lebar, semakin terkenal film itu maka semakin terkenal lokasinya. Seperti baru-baru ini, masih dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini, film 5 cm yang menceritakan tentang persahabatan dengan latar keindahan Gunung Semeru ini mampu untuk membuat banyak orang ingin menjejakan kaki di atas tanah  tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Lokasi pasir berbisik
Jam masih menujukan pukul 9 pagi, namun kami segera kembali menuju Homestay untuk bersiap-siap meninggalkan salah satu tempat wisata yang terkenal  Indonesia di luar Bali ini. Masih ada destinasi lain di perjalanan yang tak kalah indahnya untuk disinggahi, yaitu Air Terjun Madakaripura, yang konon dijadikan tempat bersemedi oleh Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya.
Note:
- Tips backpacking ke Gunung Bromo bisa dibaca disini (Link)
- Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Terios 7 Wonders yang diadakan oleh Daihatsu dan VIVAnews.
Happy Responsible Travel!

0 komentar:

Posting Komentar

Support by: Informasi Gadget Terbaru - Dewa Chord Gitar | Lirik Lagu - Kebyar Info
Copyright © 2014 Tourism Alternative Design by SHUKAKU4RT - All Rights Reserved